Cahaya dalam Fotografi

#clickjorfijecki / Di dunia fotografi ada 2 sumber cahaya yaitu outdoor dengan indoor. Pada dasarnya ada main light (Sumber cahaya utama) dan ada fill in light (Sumber cahaya pengisi). Kalau di outdoor main light nya adalah matahari dan fill in nya adalah pantulan cahaya matahari yang tidak langsung mantul melalui tanah, langit, batu, laut dll. Kalau di indoor juga sama. Harus ada main light dan kemudian fill in nya, bisa 1 ataulebih tergantung efek yang mau diangkat. Perbedaan kekuatan pencahayaan antara main light dan fill in yang akan menimbulkan contrast.
Matahari pagi langsung dimana unsur UVnya masih rendah dengan sudut sinar yang miring ditambah dengan pantulan cahaya dari sekitarnya membuat sudut pencahayaan yang menarik dengan tingkat contrast yang tinggi. Matahari yang terlindung awan mengakibatkan mainlight yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan fill in hasil pantulan sekitarnya menimbulkan efek flat / tanpa dimensi yang teduh. Di Indoor hal ini juga bisa dibuat; sudut datangnya sinar, tingkat kekontrasan, tingkat kekesasan dll.Perbedaan utama antara outdoor dan indoor terletak pada faktor kendali. Kalau outdoor kendali ada pada alam. Manusia hanya memanfaatkan / mengoptimalkan kondisi yang sedang terjadi. Di indoor manusia yang pegang kendali. Sudut sinar, efek keras / halus, kekontrasan, dll bisa di set sesuai keinginan.
Kalau dalam fotografi, cahaya menempati urutan nomor satu dan merupakan komponen utama dalam menentukan bagus tidaknya sebuah gambar. Sekecil apapun sumber cahaya yang ada, akan sangat menentukan citra apa yang ingin disampaikan seorang fotografer. Jadi, intinya kalau tidak ada sumber cahaya berarti sama dengan tidak ada foto, tidak ada gambar. Gelap.

Prinsip utama fotografi –kalo melihat asal katanya, photos yaitu cahaya, dan graphos yaitu menggambar – memang cahaya (lighting). Seperti halnya mata kita yang dapat melihat alam berikut isinya di sekitar kita, karena adanya cahaya. Coba saja kalau mulai senja, mata kita juga mulai remang-remang dan kita mulai menyalakan lampu di rumah. Di jalan lampu jalan mulai menyala, mobil dan motor juga menyalakan lampu. Itu adalah usaha kita supaya tetap bisa melakukan aktivitas dengan baik. Begitupun dengan fotografi, ketika ada di luar ruang kita bisa memotret dengan baik, tapi kalau sudah dalam ruangan atau malam hari, seringkali gambar yang kita peroleh kurang baik. Bisa kurang cahaya atau kelebihan cahaya.

Prinsip keseimbangan cahaya yang ditangkap oleh media rekam (bisa film, sensor, kertas foto) diatur dengan kecepatan (speed) dan rana (diafragma) dan ISO/ASA. Banyak sedikitnya cahaya yang ingin ditangkap dan efek apa yang diinginkan semua diatur melalui sinergi speed, diafragma dan ISO.

Oke, kalau tadi dibilang ‘permainan’ speed dan diafragma akan menghasilkan satu citra yang bisa menimbulkan efek yang diinginkan fotografer, ada baiknya saya jelaskan apa itu speed dan diafragma. Speed atau kecepatan adalah waktu yang diperlukan oleh media rekam untuk menangkap cahaya yang direfleksikan oleh benda. Satuan yang umum dipakai adalah angka 30, 60. 125, 250 dst, itu artinya kecepatan yang dipakai adalah 1/60 detik, 1/125 detik dan seterusnya. Bayangin saja bagaimana cepatnya. Kalau mau lama, terutama untuk pemotretan malam atau low lighting, bisa digunakan speed rendah (hingga 30 detik atau tak terbatas). Kemudian diafragma adalah besar kecilnya rongga lensa yang dilewati oleh cahaya. Satuan yang dipakai adalah angka 1.8, 2, 4, 8, 11, 16, 22, makin kecil angka berarti makin besar bukaannya. Jadi kalau motret dalam kondisi terang pakai saja bukaan 16 atau 22, kemudian kalau low lighting ya kebalikannya, 1.8, atau 3.5.

Foto High Speed

foto dengan kecapatan tinggi

Foto dengan slow speed

foto dengan kecepatan rendah

Pemakaian kecepatan tinggi akan mengakibatkan obyek yang bergerak menjadi freeze (beku/kaku) begitu pula kebalikannya pada speed rendah, obyek yang bergerak akan nampak move bahkan bisa hilang tak tertangkap media rekam.  Di luar itu masih bisa disinergi dengan kualitas lensa dan kualitas kamera yang dipake. Yang terang seperti kata pepatah ada harga ada rupa atau harga tidak pernah bohong, lensa yang baik akan memberi hasil yang baik pula. Cuma kalau untuk belajar, kamera apa saja tidak masalah, yang biasa juga bisa menghasilkan gambar yang spektakuler. Yang penting ‘man behind the camera’. So, selamat berkreasi ^_^

#dari berbagai sumber.

Advertisements

One thought on “Cahaya dalam Fotografi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s