Cityscape Tutorial (Yuliandi Kusuma)

Pemandangan indah tidak hanya ada di alam bebas. Ketika Anda berpelancong ke sebuah kota yang didominasi oleh gedung-gedung pencakar langit, Anda tetap bisa mengeluarkan lensa lebar Anda seperti Sigma 10-20mm atau Sigma 8-16mm untuk mengabadikan keindahan lanskap arsitektural.

Setiap mendatangi ke sebuah kota, jangan lewatkan kesempatan untuk mengabadikan lanskap. Kota-kota dengan gedung-gedung tinggi yang gemerlap di saat malam adalah sebuah pemandangan yang cantik. Karakternya memang berbeda dengan lanskap alam, karena lanskap perkotaan lebih bersifat grafis dengan bentuk-bentuk kotak-kotak yang mendominasi.

Prinsip memotret lanskap arsitektural tidak berbeda dengan memotret memotret lanskap. Anda harus bereksplorasi dengan komposisi dan eksposur. Menyeleksi obyek yang benar-benar menarik untuk diabadikan adalah hal penting. Selain itu menentukan komposisi yang menarik juga menjadi tantangan.

Perkotaan dengan gedung-gedungnya sangat menarik jika Anda abadikan pada malam hari. Untuk mengesankan kota yang megah, gunakan lensa wide atau superwide. Anda juga bisa menggunakan lensa fisheye untuk mendapatkan efek yang berbeda dari pemandangan kota yang Anda abadikan. Inilah beberapa tip pemotretan yang dapat diterapkan ketika memotret cityscape.

Gunakan lensa lebar
Untuk mendapatkan pemandangan yang luas dari lanskap arsitektural sebuah kota, gunakan lensa lebar. Anda bisa menggunakan lensa wide seperti Sigma 10-20mm F4-5.6 EX DC (HSM), 10-20mm F3.5 EX DC HSM, atau 8-16mm F4.5-5.6 DC HSM. Semakin lebar pemandangan kota yang Anda dapatkan membuat foto terkesan megah dan luas.

Memotret di malam hari
Keindahan perkotaan akan terasa semakin indah ketika malam hari ketika lampu-lampu di gedung menyala berkombinasid engan lampu jalanan dan lampu mobil yang berlalu lalang. Untuk memotret keindahan cityscape di malam hari, gunakan eknik memotret slow speed karena untuk merekam obyek tersebut biasanya membutuhkan eksposur yang panjang. Agar tidak buram, gunakan tripod kokoh, shutter release remote, dan aktifkan image stabilizer di lensa atau kamera.

Perhatikan pencahayaan
Carilah waktu yang tepat untuk memotret kota yang Anda datangi. Lihatlah kondisi pencahayaannya, apakah lebih bagus dipotret ketika pagi hari atau senja hari. Pastikan posisi cahaya matahari di belakang Anda ketika memotret sehingga kota disinari cahaya yang cukup dan membuat langit membiru. Seperti pemotretan lanskap, pagi hari atau sore hari adalahw atu yang tepat di mana kondisi cahaya sedang bagus-bagusnya dan menghasilkan bayangan serta detail yang baik.

Metering yang tepat
Carilah spot yang menarik dan lakukan komposisi yang tepat ketika memotret kota di malam hari. Yang juga harus diperhatikan adalah metering pencahayaan. Dengan background gelap dan lampu gedung bercahaya yang berwarna-warni, dapat membingungkan kamera. Anda membutuhkan metering yang akurat. Sebaiknya, pilihlah metering jenis Spot dan pilihlah obyek yang dijadikan patokan untuk mid tone , seperti lampu gedung atau papan billboard.

Eksposur dan ketajaman
Untuk memudahkan penentuan eksposur, Anda bisa gunakan mod epemotretan AV atau Aperture Priority. Gunakan bukaan sempit seperti f/11 atau lebih untuk mendapatkan ruang ketajaman yang luas sehingga memastikan ketajaman objek di dalam frame foto. Gunakan white balance Auto dan jangan aktifkan flash. Jika ingin mendapatkan kesan malam yang lebih dingin, white balance dapat diubah ke Tungsten.

Naiklah ke rooftop
Pemandangan kota dengan gedung-gedung menjulang akan lebih megah dan menarik ketika diabadikan dari atas gedung atau lantai tertinggi sebuah bangunan. Memotret di rooftop biasanya memerlukan izin dan kehati-hatian. Angin kencang di puncak gedung cukup berbahaya dan Anda memerlukan tripod yang kokoh agar kamera tidak berguncang. Kondisi cuaca yang baik akan sangat mendukung pemotretan dari rooftop.

Memotret dari jendela kaca
Anda bisa memotret dari lantai tinggi di bangunan, baik di gedung perkantoran atau hotel. Anda bisa memotretnya dari balik jendela kaca. Untuk memotret dari balik jendela, pastikan tidak ada refleksi dari ruangan di belakang Anda yang memantul di kaca. Tempelkan lensa ke kaca untuk menghindari terekamnya refleksi. Atau gunakan tirai untuk menutupi posisi Anda dan menghilangkan refleksi di kaca.

TUTORIAL
Memotret cityscape di malam hari
1 Menggunakan slow speed
Menggunakan shutter speed lambat akan membuat sensor lebih banyak menyerap cahaya dari obyek. Pastikan kamera tidak berguncang selama proses pemotretan. Gunakan shutter speed sekitar 5 detik ke atas.

2 Pemilihan ISO
Pemilihan ISO yang tepat juga menentukan hasil foto yang tajam dan bereksposur bagus. Untuk foto malam dengan teknik slow speed, Anda bisa memotret dengan ISO 100-250. Tanpa tripod, Anda bisa menaikkan hingga ISO 1600. Lebih dari itu, foto cenderung memiliki noise mengganggu.

3 Tripod dan shutter release
Tanpa tripod yang kokoh, foto akan buram jika dipotret dengan teknik slow speed. Untuk itu, pilihlah kaki tiga yang benar-benar kuat. Saat menekan tombol, gunakan juga shutter release atau remote untuk menghindari guncangan. Jika tidak ada, Anda bisa menggunakan timer di kamera.

Copyright © 2013 Sigma Indonesia, All rights reserved.

Tutorial ini saya copy paste dari email pribadi, tanpa menambahkan dan mengurangi teks dan foto penulis. Semoga berkenan.

Advertisements

4 thoughts on “Cityscape Tutorial (Yuliandi Kusuma)

      1. Secara teoritis malah dikhawatirkan image stabilizer yang dihidupkan saat menggunakan tripod malahan berpotensi jadi penyebab blur. Makanya di manual juga sudah diingatkan, untuk matikan stabilizer saat penggunaan tripod.

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s